Senin, 09 Februari 2015

Minggu, 31 Agustus 2014

dibalik kemalasan menulis


bagi saya menulis adalah mengarang, mengetik pada keyboard. menulis identik dengan pena dan buku kosong , kertas dan selanjutnya merangkai kata demi kata sehingga menjadi susunan-susunan kata (kalimat) selanjutnya membentuk paragraf. jadi ternyata lebih tepatnya mengetik atau mengarang. tetapi kita harus apresiasi pemahaman kalangan karena sudah tertanam dalam-dalam tentang fenomena menulis sebagai suatu istilah bagi seorang yang mempunyai karya tulis. dan kita harus gunakan istilah itu agar dapat dipahami kalangan tersebut.

saya memahami bahwa menulis adalah tindakan yang gampang-gampang susah ketika seseorang hendak mau menulis. tetapi apakah kita sadari realitas dibalik kemalasan menulis. kemalasan yang membuat mereka  tidak bisa mengespresikan jiwa , pikiran, dan rasanya (baca : hati)?

memahami fakta dibalik kemalasan menulis, saya memakai pendekatan pada diri saya dan kemudian mengkaji fenomena yang terjadi ketika hendak mengalami kemalasan menulis. saya bingung tulisan seperti apa yang ingin saya tulis. tulisan yang bisa membuat saya merasa nyaman. tulisan yang bisa mengungkap ekspresi dibalik realitas saat itu terkait faktor eksternal yang saya alami.

Realitas pergaulan


memahami realitas sangat kompleks dimana kita berada pada kondisi apapun didunia yang luas ini. realitas hidup , manakala kita hidup ditengah-tengah orang, kelompok, komunitas dan sejenisnya yang beda pemahaman dengan kita yang kemudian mengarahkan kita untuk ikut selalu menyesuaikan cara pandang kita dengan cara pandang mereka. tak terhindarkan pula mengikuti hasrat mereka. mencoba menyesuaikan dengan rutinitas mereka. adalah suatu keharusan untuk bisa diterima dikalangan mereka dengan cara menyesuaikan, beradaptasi apapun yang terjadi. meskipun apa yang mereka pahami sangat kontradiksi dengan pemahaman kita saat itu. berharap kelak apa yang kita yakini benar dengan cara pandang kita bisa diterima dengan bijaksana oleh mereka. berharap juga pemahaman kita saat itu mendapat kritikan demi penyempurnaan, atau mencapat secercah cahaya pemahaman baru atau pemahaman mereka yang ternyata benar adanya sesuai kaidah-kaidah logis dan rasional seiring berada ditengah-tengah mereka.

ketika berada dalam kondisi tersebut tak terelakan banyak rasa yang ikut berbaur demi terwujudnya akan perkara tertentu. ketika misalkan; tiap-tiap orang dengan sangat bernafsu mengarahkan orang lainnya demi kenyamanannya sendiri tanpa pemahaman tentang apa yang kita rasakan adalah suatu tindakan yang sangat menguras emosional bagi orang yang diarahkan tersebut. atau dengan kompak suatu kelompok tertentu dengan dalil membenarkan apa yang dikatakan, adalah rasa yang sangat sulit dibendung untuk bisa mempertahankan apa yang kita yakini benar dengan tujuan menjaga kemaslahatan diri dan lingkungan demi kedepannya yang lebih baik. ikut arus demi kemaslahatan, demi kedepannya dengan strategi, siasat baru mungkin perlu dilakukan jika konsekuensi dibalik apa yang kita lihat sudah sangat jelas terlepas pada benar dan tidaknya ideologi mereka.

apa itu "Cinta"?


untuk dapat memahami hakikat cinta, kita terkadang multitafsir. banyak kalangan yang memahami cinta hanya dengan pendekatan emosional. rasa yang kemudian tertuangkan dalam perkataan terkiat cinta. cinta tidak lain adalah cerminan rasa (baca  : hati), yang pada akhirnya akal sehat terabaikan. konsekuensi fenomena ini pun tiba gilirannya memunculkan pesimisme pada kalangan pemuda tentang eksistensi cinta, karena cinta kemudian ditafsirkan sesuai anggapan, cita rasa, dan faktor-faktor eksternal yang  ekstrim dalam merumuskan cinta. banyak kalangan pemuda yang asal mengklaim tentang cinta tersebut. cinta kemudian ditafsirkan sesuatu yang sangat menyakitkan, cinta adalah kasih sayang dan apabila didapati hal-hal yang kontradiksi pada dirinya seiring berjalannya waktu, berubahlah pemaknaan tentang cinta tersebut menjadi sesuatu yang menyakitkan. apakah cinta adalah konsekuensi kejadian, peristiwa yang pemaknaannya bisa berubah-ubah? terserah kemudian pemaknaan cinta  bak emosi yang selalu berubah-ubah. 

itulah fenomena pemuda kontemporer saat ini. cinta kemudian berfariasi dalam pemaknaannya seiring dengan rasa , pikiran yang selalu berubah-ubah. konsekuensi dari faktor internal dan eksternal yang menjadi acuan perubahan makna cinta. 

Jumat, 29 Agustus 2014

Ketidaknyamananku. Apakah waktu menjadi penyebab?

saat fungsional tubuh sedang fit beriringan dengan tindakan yang mengharuskan akan capaian-capaian hasrat yang menggaransikan kenyamanan diri, ketika itu waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi dan saya sama sekali tidak tidur. saya membuat tulisan dengan harapan menjadi obat dikala beban moril melanda saya. beban moril sama halnya dengan penyakit mental menurut pemahaman ahli psikolog. beliau mengatakan bahwa dikala sedang mendapati dirimu dalam kondisi tertekan, kondisi yang membingungkan atau mengingat akan kenangan pahit , beliau menyimpulkan kondisi itu adalah kondisi dimana dirimu sedang mengidam penyakit mental (beban moril).

olehnya itu saya harus menulis apa yang saya rasakan demi capaian akan kebaikan buat diri saya. tetapi hal itu membuat saya terkekang oleh waktu yang sudah menampakan wujudnya manakala dibalik jendela sudah sangat jelas penglihatan saya pada beberapa objek. dengannya saya kemudian merasakan ketidaknyamanan. ketidaknyamanan ketika mengingat perkataan teman bahwa waktu ibarat roda yang selalu berputar dan tidak akan pernah berhenti , olehnya itu manajemen waktu sangat perlu difungsikan demi kebaikan diri, dimana porsi kegiatan, tindakan harus diatur , dalam hal ini istrahat perlu diadakan demi menjaga kondisi tubuh.

Fakta dibalik seseorang yang susah menentukan topik tulisan

Hasrat ingin menulis tiap-tiap orang berbeda. dalam hal ini hasrat atau keinginan seseorang tergantung mood atau kondisi yang mendorongnya untuk menulis.entah kondisi kejiwaan, kondisi dunia (baca : lingkungan) , sprititual, emosional dan sebagainya. terkait kondisi ada juga beberapa orang yang menjadikan tulisan sebagai obat demi meminimalisir kegundahan, kegalauan, dan sebagainya. itulah uniknya menulis.

menulis erat kaitannya dengan topik yang ingin ditulis. topik yang menjadi objek kajian penulis untuk selanjutnya mengembangkannya menjadikannya dalam bentuk kerangka dengan metode-metode yang disukainya.

Kamis, 28 Agustus 2014

KEBUNTUAN MENULIS

Apa hendak dilakukan ketika sedang menulis, merangkai kata demi kata dan selanjutnya tidak berselang lama pikiran tidak fokus lagi, pikiran melayang/melanglang buana, tak tentu arah. banyak penulis pemula yang mengalami fenomena ini. terlebih juga sedang menulis sajak, esai, kisah yang keluar dari rasa (baca : hati) selanjutnya berhenti ditengah jalan? bahasa kasarnya ini adalah kebuntuan menulis.

fenomena tersebut yang mengarahkan saya sampai sejauh ini menulis pada blog pribadi ini. menulis demi mengungkap apa dibalik fenomena tersebut. fenomena yang objek kajiannya terkadang membingungkan. apa yang harus diperhatikan ketika fenomena tersebut terjadi lagi atau sering terjadi dalam kondisi sedang menulis. 

mengungkap fenomena ini saya harus hati-hati karena bisa multitafsir. tetapi saya memakai metode atau pendekatan pada diri saya ketika pernah mengalami fenomena kebuntuan ini. jujur saya sangat tidak nyaman ketika dihdapkan pada kejadian ini. itulah selanjutnya saya harus sedetail mungkin mengungkap dibalik ini semua.