Minggu, 31 Agustus 2014

Realitas pergaulan


memahami realitas sangat kompleks dimana kita berada pada kondisi apapun didunia yang luas ini. realitas hidup , manakala kita hidup ditengah-tengah orang, kelompok, komunitas dan sejenisnya yang beda pemahaman dengan kita yang kemudian mengarahkan kita untuk ikut selalu menyesuaikan cara pandang kita dengan cara pandang mereka. tak terhindarkan pula mengikuti hasrat mereka. mencoba menyesuaikan dengan rutinitas mereka. adalah suatu keharusan untuk bisa diterima dikalangan mereka dengan cara menyesuaikan, beradaptasi apapun yang terjadi. meskipun apa yang mereka pahami sangat kontradiksi dengan pemahaman kita saat itu. berharap kelak apa yang kita yakini benar dengan cara pandang kita bisa diterima dengan bijaksana oleh mereka. berharap juga pemahaman kita saat itu mendapat kritikan demi penyempurnaan, atau mencapat secercah cahaya pemahaman baru atau pemahaman mereka yang ternyata benar adanya sesuai kaidah-kaidah logis dan rasional seiring berada ditengah-tengah mereka.

ketika berada dalam kondisi tersebut tak terelakan banyak rasa yang ikut berbaur demi terwujudnya akan perkara tertentu. ketika misalkan; tiap-tiap orang dengan sangat bernafsu mengarahkan orang lainnya demi kenyamanannya sendiri tanpa pemahaman tentang apa yang kita rasakan adalah suatu tindakan yang sangat menguras emosional bagi orang yang diarahkan tersebut. atau dengan kompak suatu kelompok tertentu dengan dalil membenarkan apa yang dikatakan, adalah rasa yang sangat sulit dibendung untuk bisa mempertahankan apa yang kita yakini benar dengan tujuan menjaga kemaslahatan diri dan lingkungan demi kedepannya yang lebih baik. ikut arus demi kemaslahatan, demi kedepannya dengan strategi, siasat baru mungkin perlu dilakukan jika konsekuensi dibalik apa yang kita lihat sudah sangat jelas terlepas pada benar dan tidaknya ideologi mereka.


realitas apapun yang terjadi , meskipun itu sangat menguras emosi adalah keniscayaan realitas. kita tidak perlu larut dalam realitas yang mengantarkan kita berada pada kondisi terpojok, atau pada kondisi mengingkari kebaikan dibalik realitas tersebut.

kita tidak bisa menghapuskan realitas apapun yang terjadi pada kita. kita sudah mengalami dampak dari realitas tersebut. yang bisa kita lakukan adalah menghadapi atau menyiasati realitas tersebut demi konsekuensi yang bijaksana.

salah satu ilustrasi adalah ketika anda mendapati teman anda sedang menginginkan sesuatu yang kita sendiri tidak bisa mengiyakannya. dalam kondisi ini adalah realitas dimana anda berada pada kondisi yang serba salah. anda harus menuruti keinginannya dan konsekuensi ini adalah anda mendapati diri anda berada pada beban yang sangat berat, manakala anda harus mempertimbangkan perasaan teman anda tersebut. kendati teman anda tidak memikirkan apa yang anda pikirkan atau apa yang anda rasakan. hal inilah yang membuat panas ruangan anda dengan teman anda. gejolak emosional berada pada atap-atap ruangan anda. dilain sisi, ketika anda tidak mengiyakan permintaan teman anda, anda mendapti dirinya berada dalam kondisi yang sangat kecewa. rasa kecewa mungkin bisa diminimalisir dengan alasan-alasan logis ketidakinginan anda tetapi apakah dengan itu menimbulkan dampak positif? atau konsekuensi yang saling menguntungkan atau mungkin dampak yang saling merugikan?

terkadang ego yang mendominasi diri. konsekuensi logis terabaikan. potensi diri terabaikan hanya karena ego. ketika identifikasi diri dengan pertimbangan dari segala aspek internal maupun eksternal diri sudah tidak berada digaris terdepan egolah yang kemudian mengambil alih kebenaran. hal inilah yang dialami sepasang teman yang saling mengkonsolidari hasrat demi terealisasinya kenyamanan diantara mereka.

siapa yang harus menanggung beban dipunggung manakala realitas sudah terlanjur terjadi? apakah dengan berpura-pura menjadi alternatif demi kebaikan diantara mereka? adalah alternatif kebusukan hati, alternatif penghianatan pada potensi kebaikan. hal itu bukanlah alternatif untuk menciptakan kenyamanan diantara mereka. tetapi malah menciptakan penyakit yang kemudian menjadi tradisi demi mengambil kebenaran dari sumber yang keliru.

ketika realitas sudah terlanjur terjadi, sikap yang cerdas perlu diperlihatkan demi terciptanya suasana hati diantara mereka. sikap yang tak luput dari pemahaman akan konsekuensi dibalik realitas tersebut. sikap yang mungkin mengharuskan salah satu diantara mereka harus berbesar hati menerima konsekuensi dari realitas tersebut. entah konsekuensi ketidaknyamanan atau kenyamanan. tetapi sangat cerdas lagi apabila ketidaknyamanan ditransformasikan menjadi kenyamanan. misalkan mendapati dirinya pada kondisi yang kontradiksi dan kemudian dirubahnya menjadi hal yang biasa , hal yang tidak membutuhkan energi banyak untuk diresapi. tetapi apakah diantara mereka bisa merealisasikan sikap yang cerdas tersebut? entahlah

Transformasi konsekuensi dibalik realitas yang sangat tidak kita inginkan menuju sikap yang tidak menimbulkan kesan negatif pada kita adalah keharusan demi terhindarnya keburukan. tetapi bagaimana cara mentransformasikan keadaan tersebut???

pertanyaan tersebut membutuhkan pengkajian khusus. oleh beberapa ahli dibidangnya mengatakan ; ketika dalam kondisi tersebut kita harus berkorban demi seseorang yang kita anggap membutuhkan perhatian kita. ada juga yang mengatakan; kebesaran hatilah yang menjadi acuan demi terealisasinya kebaikan diri dan lingkungan. 

yang oleh beberapa tokoh yang ahli dibidangnya pernah mengatakan ; hanya kelapangan dada yang bisa melarutkan kebencian, ketidaknyamanan, manakala ketika wadah gelas yang berisi air dan kemudian dimasukan garam, akan sangat terasa garamnya, tetapi manakala garam yang ditaburkan pada air dengan wadah laksana sungai, akan tidak terasa lagi garamnya. hal itu sama halnya dengan taburan ketidaknyamanan pada hati. manakala hati dilapangkan seluas-luasnya niscaya ketidaknyamanan akan tidak terasa lagi. hal inilah yang dinamakan kelapangan, kebesaran hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar