memahami realitas sangat
kompleks dimana kita berada pada kondisi apapun didunia yang luas ini. realitas
hidup , manakala kita hidup ditengah-tengah orang, kelompok, komunitas dan
sejenisnya yang beda pemahaman dengan kita yang kemudian mengarahkan kita untuk
ikut selalu menyesuaikan cara pandang kita dengan cara pandang mereka. tak
terhindarkan pula mengikuti hasrat mereka. mencoba menyesuaikan dengan
rutinitas mereka. adalah suatu keharusan untuk bisa diterima dikalangan mereka
dengan cara menyesuaikan, beradaptasi apapun yang terjadi. meskipun apa yang
mereka pahami sangat kontradiksi dengan pemahaman kita saat itu. berharap kelak
apa yang kita yakini benar dengan cara pandang kita bisa diterima dengan
bijaksana oleh mereka. berharap juga pemahaman kita saat itu mendapat kritikan
demi penyempurnaan, atau mencapat secercah cahaya pemahaman baru atau pemahaman
mereka yang ternyata benar adanya sesuai kaidah-kaidah logis dan rasional
seiring berada ditengah-tengah mereka.
ketika berada dalam kondisi
tersebut tak terelakan banyak rasa yang ikut berbaur demi terwujudnya akan
perkara tertentu. ketika misalkan; tiap-tiap orang dengan sangat bernafsu
mengarahkan orang lainnya demi kenyamanannya sendiri tanpa pemahaman tentang
apa yang kita rasakan adalah suatu tindakan yang sangat menguras emosional bagi
orang yang diarahkan tersebut. atau dengan kompak suatu kelompok tertentu
dengan dalil membenarkan apa yang dikatakan, adalah rasa yang sangat sulit
dibendung untuk bisa mempertahankan apa yang kita yakini benar dengan tujuan
menjaga kemaslahatan diri dan lingkungan demi kedepannya yang lebih baik. ikut
arus demi kemaslahatan, demi kedepannya dengan strategi, siasat baru mungkin
perlu dilakukan jika konsekuensi dibalik apa yang kita lihat sudah sangat jelas
terlepas pada benar dan tidaknya ideologi mereka.
realitas apapun yang terjadi
, meskipun itu sangat menguras emosi adalah keniscayaan realitas. kita tidak
perlu larut dalam realitas yang mengantarkan kita berada pada kondisi terpojok,
atau pada kondisi mengingkari kebaikan dibalik realitas tersebut.
kita tidak bisa menghapuskan
realitas apapun yang terjadi pada kita. kita sudah mengalami dampak dari
realitas tersebut. yang bisa kita lakukan adalah menghadapi atau menyiasati
realitas tersebut demi konsekuensi yang bijaksana.
salah satu ilustrasi adalah
ketika anda mendapati teman anda sedang menginginkan sesuatu yang kita sendiri
tidak bisa mengiyakannya. dalam kondisi ini adalah realitas dimana anda berada
pada kondisi yang serba salah. anda harus menuruti keinginannya dan konsekuensi
ini adalah anda mendapati diri anda berada pada beban yang sangat berat,
manakala anda harus mempertimbangkan perasaan teman anda tersebut. kendati
teman anda tidak memikirkan apa yang anda pikirkan atau apa yang anda rasakan.
hal inilah yang membuat panas ruangan anda dengan teman anda. gejolak emosional
berada pada atap-atap ruangan anda. dilain sisi, ketika anda tidak mengiyakan
permintaan teman anda, anda mendapti dirinya berada dalam kondisi yang sangat
kecewa. rasa kecewa mungkin bisa diminimalisir dengan alasan-alasan logis
ketidakinginan anda tetapi apakah dengan itu menimbulkan dampak positif? atau
konsekuensi yang saling menguntungkan atau mungkin dampak yang saling
merugikan?
terkadang ego yang mendominasi
diri. konsekuensi logis terabaikan. potensi diri terabaikan hanya karena ego.
ketika identifikasi diri dengan pertimbangan dari segala aspek internal maupun
eksternal diri sudah tidak berada digaris terdepan egolah yang kemudian
mengambil alih kebenaran. hal inilah yang dialami sepasang teman yang saling
mengkonsolidari hasrat demi terealisasinya kenyamanan diantara mereka.
siapa yang harus menanggung
beban dipunggung manakala realitas sudah terlanjur terjadi? apakah dengan
berpura-pura menjadi alternatif demi kebaikan diantara mereka? adalah
alternatif kebusukan hati, alternatif penghianatan pada potensi kebaikan. hal
itu bukanlah alternatif untuk menciptakan kenyamanan diantara mereka. tetapi
malah menciptakan penyakit yang kemudian menjadi tradisi demi mengambil
kebenaran dari sumber yang keliru.
ketika realitas sudah
terlanjur terjadi, sikap yang cerdas perlu diperlihatkan demi terciptanya
suasana hati diantara mereka. sikap yang tak luput dari pemahaman akan
konsekuensi dibalik realitas tersebut. sikap yang mungkin mengharuskan salah
satu diantara mereka harus berbesar hati menerima konsekuensi dari realitas
tersebut. entah konsekuensi ketidaknyamanan atau kenyamanan. tetapi sangat
cerdas lagi apabila ketidaknyamanan ditransformasikan menjadi kenyamanan.
misalkan mendapati dirinya pada kondisi yang kontradiksi dan kemudian
dirubahnya menjadi hal yang biasa , hal yang tidak membutuhkan energi banyak
untuk diresapi. tetapi apakah diantara mereka bisa merealisasikan sikap yang
cerdas tersebut? entahlah
Transformasi konsekuensi
dibalik realitas yang sangat tidak kita inginkan menuju sikap yang tidak
menimbulkan kesan negatif pada kita adalah keharusan demi terhindarnya
keburukan. tetapi bagaimana cara mentransformasikan keadaan tersebut???
pertanyaan tersebut
membutuhkan pengkajian khusus. oleh beberapa ahli dibidangnya mengatakan ;
ketika dalam kondisi tersebut kita harus berkorban demi seseorang yang kita
anggap membutuhkan perhatian kita. ada juga yang mengatakan; kebesaran hatilah
yang menjadi acuan demi terealisasinya kebaikan diri dan lingkungan.
yang oleh beberapa tokoh
yang ahli dibidangnya pernah mengatakan ; hanya kelapangan dada yang bisa
melarutkan kebencian, ketidaknyamanan, manakala ketika wadah gelas yang berisi
air dan kemudian dimasukan garam, akan sangat terasa garamnya, tetapi manakala
garam yang ditaburkan pada air dengan wadah laksana sungai, akan tidak terasa
lagi garamnya. hal itu sama halnya dengan taburan ketidaknyamanan pada hati.
manakala hati dilapangkan seluas-luasnya niscaya ketidaknyamanan akan tidak
terasa lagi. hal inilah yang dinamakan kelapangan, kebesaran hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar