Apa hendak dilakukan ketika sedang menulis,
merangkai kata demi kata dan selanjutnya tidak berselang lama pikiran tidak
fokus lagi, pikiran melayang/melanglang buana, tak tentu arah. banyak penulis
pemula yang mengalami fenomena ini. terlebih juga sedang menulis sajak, esai,
kisah yang keluar dari rasa (baca : hati) selanjutnya berhenti ditengah jalan?
bahasa kasarnya ini adalah kebuntuan menulis.
fenomena tersebut yang mengarahkan saya
sampai sejauh ini menulis pada blog pribadi ini. menulis demi mengungkap apa
dibalik fenomena tersebut. fenomena yang objek kajiannya terkadang
membingungkan. apa yang harus diperhatikan ketika fenomena tersebut terjadi
lagi atau sering terjadi dalam kondisi sedang menulis.
mengungkap fenomena ini saya harus hati-hati
karena bisa multitafsir. tetapi saya memakai metode atau pendekatan pada diri
saya ketika pernah mengalami fenomena kebuntuan ini. jujur saya sangat tidak
nyaman ketika dihdapkan pada kejadian ini. itulah selanjutnya saya harus
sedetail mungkin mengungkap dibalik ini semua.
kebuntuan menulis adalah hal yang biasa
manakala perkataan itu sering saya dengar pada orang-orang yang pernah
mengalaminya. tetapi bagi saya hal-hal yang saya tidak sukai. kenapa biasa
sedangkan ini membuat saya resah. biasa sangat beda dengan ketidaksukaan.
sangat beda dengan keganjilan yang terjadi pada diri saya ketika sedang menulis.
kebuntuan menulis juga bagi segelintir orang
memaknai sebagai proses demi terealisasinya keajaiban ketika sering dilatih.
saya belum terlalu paham akan statmen tersebut. apakah proses terealisasinya
keajaiban ketika sering mengalami hal itu? ataukah diteruskan kebuntuan itu.
apa landasan fundamental atau dibalik kebuntuan menulis ini?
apakah kebuntuan menulis erat kaitannya
dengan sedikitnya pemahaman akan objek tulisan, bahan tulisan, referensi yang
ingin ditulis? ataukah sekedar tahap awal yang memang rata-rata orang pernah
mengalaminya?
saya sendiri sangat sulit memahamai detail
penyebab fenomena ini terjadi. ada juga segelintir orang yang memahami
kebuntuan menulis sebagai tahap awal untuk selanjutnya akan terbiasa. tetapi
saya lagi-lagi belum terlalu paham akan alasan itu.
menulis adalah menulis. apa yang ada
dipikiran tertuang dalam tulisan. apa yang dirasakan tertuang atau tulisanlah
yang mewakilinya. tulisan sebagai simbol apa dibalik yang kita pikirkan dan
rasakan. itulah pemahaman saya akan tulisan sejauh ini. tetapi beda halnya
dengan persoalan kebuntuan menulis.
menulis juga oleh beberapa orang dengan
capaian hasil karyanya dalam bentuk buku mengatakan, kebuntuan menulis adalah
hal yang wajar manakala kita belum terbiasa mensistematiskan pikiran atau rasa
yang kemudian tertuangkan dalam bentuk kata-kata selanjutnya kalimat, paragraf.
salah satu faktor juga sedikitnya pemahaman akan topik yang dipilih atau
kurangnya referensi tentang topik yang dipilih. statmen tersebut bagi saya bisa
dijadikan alasan tetapi tidak sepenuhnya juga saya pahami.
ada juga yang mengatakan menulis erat
kaitannya dengan membaca. ketika sering membaca akan membentuk mental dan
secara tidak langsung gaya tulisan kita mengarah pada bacaan yang pernah kita baca
sehingga terwujudlah tulisan yang bagi kita adalah murni kepemilikan
kita.
banyak buku referensi untuk mengungkap kenapa
kebuntuan menulis melanda kita yang bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat.
tetapi saya enggan untuk membelinya.
seiring dengan banyak hal diatas saya tidak
mau menghabiskan energi tentang statmen-statmen itu. bagi saya menulis adalah
menulis. menulis untuk memulai dengan menjadi diri sendiri apa yang hendak
ditulis berdasarkan apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan. menulis
dengan bantuan laptop dan bahasa indonesia yang saya gunakan adalah murni
pemahaman saya. tak perduli pemahaman ejaan/eyd tak sesuai dengan standar eyd
yang telah disahkan kevalidannya saya tidak terlalu memikirkan akan hal
itu.
bagi saya menulis adalah buah tangan dengan
menjadi diri sendiri , larut dalam pikiran, melayang kedunia imajinasi, rasa
yang ikut kolaborasi sehingga dengan responsiv indra saya bisa
mengaktualisasikan apa yang saya anggap perlu untuk ditulis.
menulis bagi saya tidak susah asal bisa
memerdekakan pikiran dan hati. ketika pikiran dan hati telah berada dalam
kondisi yang tidak tertekan oleh faktor apa saja yang menghambat kemerdekaannya
, sisa mengaitkan kondisi objektif internal diri baik didominsi pikiran maupun
rasa.
kebuntuan menulis bagi saya adalah
kemustahilan bagi siapa saja yang mau menuangkan rasa, buah pikiran dengan
terbebas dari belenggu, penjara pikiran, rasa. Ekspresi jiwa ikut lebur dalam
pikiran dan rasa sisa responsif indra yang cepat sehingga terwujudlah tulisan
yang bisa membuat kita nyaman.
bagi saya tulisan adalah ekspresi diri.
ekspresi pikiran, rasa yan tertuang ketika kondisi tertentu yang memang pas
untuk menuangkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan tersebut.
so kebuntuan menulis adalah ketiadaan.
luar biasa..
BalasHapus