Kamis, 28 Agustus 2014

KEBUNTUAN MENULIS

Apa hendak dilakukan ketika sedang menulis, merangkai kata demi kata dan selanjutnya tidak berselang lama pikiran tidak fokus lagi, pikiran melayang/melanglang buana, tak tentu arah. banyak penulis pemula yang mengalami fenomena ini. terlebih juga sedang menulis sajak, esai, kisah yang keluar dari rasa (baca : hati) selanjutnya berhenti ditengah jalan? bahasa kasarnya ini adalah kebuntuan menulis.

fenomena tersebut yang mengarahkan saya sampai sejauh ini menulis pada blog pribadi ini. menulis demi mengungkap apa dibalik fenomena tersebut. fenomena yang objek kajiannya terkadang membingungkan. apa yang harus diperhatikan ketika fenomena tersebut terjadi lagi atau sering terjadi dalam kondisi sedang menulis. 

mengungkap fenomena ini saya harus hati-hati karena bisa multitafsir. tetapi saya memakai metode atau pendekatan pada diri saya ketika pernah mengalami fenomena kebuntuan ini. jujur saya sangat tidak nyaman ketika dihdapkan pada kejadian ini. itulah selanjutnya saya harus sedetail mungkin mengungkap dibalik ini semua.


kebuntuan menulis adalah hal yang biasa manakala perkataan itu sering saya dengar pada orang-orang yang pernah mengalaminya. tetapi bagi saya hal-hal yang saya tidak sukai. kenapa biasa sedangkan ini membuat saya resah. biasa sangat beda dengan ketidaksukaan. sangat beda dengan keganjilan yang terjadi pada diri saya ketika sedang menulis. 

kebuntuan menulis juga bagi segelintir orang memaknai sebagai proses demi terealisasinya keajaiban ketika sering dilatih. saya belum terlalu paham akan statmen tersebut. apakah proses terealisasinya keajaiban ketika sering mengalami hal itu? ataukah diteruskan kebuntuan itu. apa landasan fundamental atau dibalik kebuntuan menulis ini?

apakah kebuntuan menulis erat kaitannya dengan sedikitnya pemahaman akan objek tulisan, bahan tulisan, referensi yang ingin ditulis? ataukah sekedar tahap awal yang memang rata-rata orang pernah mengalaminya?

saya sendiri sangat sulit memahamai detail penyebab fenomena ini terjadi. ada juga segelintir orang yang memahami kebuntuan menulis sebagai tahap awal untuk selanjutnya akan terbiasa. tetapi saya lagi-lagi belum terlalu paham akan alasan itu.

menulis adalah menulis. apa yang ada dipikiran tertuang dalam tulisan. apa yang dirasakan tertuang atau tulisanlah yang mewakilinya. tulisan sebagai simbol apa dibalik yang kita pikirkan dan rasakan. itulah pemahaman saya akan tulisan sejauh ini. tetapi beda halnya dengan persoalan kebuntuan menulis. 

menulis juga oleh beberapa orang dengan capaian hasil karyanya dalam bentuk buku mengatakan, kebuntuan menulis adalah hal yang wajar manakala kita belum terbiasa mensistematiskan pikiran atau rasa yang kemudian tertuangkan dalam bentuk kata-kata selanjutnya kalimat, paragraf. salah satu faktor juga sedikitnya pemahaman akan topik yang dipilih atau kurangnya referensi tentang topik yang dipilih. statmen tersebut bagi saya bisa dijadikan alasan tetapi tidak sepenuhnya juga saya pahami.

ada juga yang mengatakan menulis erat kaitannya dengan membaca. ketika sering membaca akan membentuk mental dan secara tidak langsung gaya tulisan kita mengarah pada bacaan yang pernah kita baca sehingga terwujudlah tulisan yang bagi kita adalah murni kepemilikan kita. 

banyak buku referensi untuk mengungkap kenapa kebuntuan menulis melanda kita yang bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat. tetapi saya enggan untuk membelinya.

seiring dengan banyak hal diatas saya tidak mau menghabiskan energi tentang statmen-statmen itu. bagi saya menulis adalah menulis. menulis untuk memulai dengan menjadi diri sendiri apa yang hendak ditulis berdasarkan apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan. menulis dengan bantuan laptop dan bahasa indonesia yang saya gunakan adalah murni pemahaman saya. tak perduli pemahaman ejaan/eyd tak sesuai dengan standar eyd yang telah disahkan kevalidannya saya tidak terlalu memikirkan akan hal itu. 

bagi saya menulis adalah buah tangan dengan menjadi diri sendiri , larut dalam pikiran, melayang kedunia imajinasi, rasa yang ikut kolaborasi sehingga dengan responsiv indra saya bisa mengaktualisasikan apa yang saya anggap perlu untuk ditulis. 

menulis bagi saya tidak susah asal bisa memerdekakan pikiran dan hati. ketika pikiran dan hati telah berada dalam kondisi yang tidak tertekan oleh faktor apa saja yang menghambat kemerdekaannya , sisa mengaitkan kondisi objektif internal diri baik didominsi pikiran maupun rasa. 

kebuntuan menulis bagi saya adalah kemustahilan bagi siapa saja yang mau menuangkan rasa, buah pikiran dengan terbebas dari belenggu, penjara pikiran, rasa. Ekspresi jiwa ikut lebur dalam pikiran dan rasa sisa responsif indra yang cepat sehingga terwujudlah tulisan yang bisa membuat kita nyaman.

bagi saya tulisan adalah ekspresi diri. ekspresi pikiran, rasa yan tertuang ketika kondisi tertentu yang memang pas untuk menuangkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan tersebut.

so kebuntuan menulis adalah ketiadaan. 

1 komentar: