saat fungsional tubuh sedang
fit beriringan dengan tindakan yang mengharuskan akan capaian-capaian hasrat
yang menggaransikan kenyamanan diri, ketika itu waktu sudah menunjukan pukul
06.00 pagi dan saya sama sekali tidak tidur. saya membuat tulisan dengan harapan
menjadi obat dikala beban moril melanda saya. beban moril sama halnya dengan
penyakit mental menurut pemahaman ahli psikolog. beliau mengatakan bahwa dikala
sedang mendapati dirimu dalam kondisi tertekan, kondisi yang membingungkan atau
mengingat akan kenangan pahit , beliau menyimpulkan kondisi itu adalah kondisi
dimana dirimu sedang mengidam penyakit mental (beban moril).
olehnya itu saya harus
menulis apa yang saya rasakan demi capaian akan kebaikan buat diri saya. tetapi
hal itu membuat saya terkekang oleh waktu yang sudah menampakan wujudnya
manakala dibalik jendela sudah sangat jelas penglihatan saya pada beberapa
objek. dengannya saya kemudian merasakan ketidaknyamanan. ketidaknyamanan
ketika mengingat perkataan teman bahwa waktu ibarat roda yang selalu berputar
dan tidak akan pernah berhenti , olehnya itu manajemen waktu sangat perlu
difungsikan demi kebaikan diri, dimana porsi kegiatan, tindakan harus diatur ,
dalam hal ini istrahat perlu diadakan demi menjaga kondisi tubuh.
Saya akui bahwa saya belum pernah tidur hingga
sampai pada kondisi yang sudah terang benderang dibalik jendala. Tetapi kondisi
itu tidak membatasi ruang gerak saya untuk menulis tulisan ini meskipun pada
akhirnya saya mengakui dan menarik kesimpulan bahwa saya mengalami
ketidaknyamanan.
Ketidaknyamanan pada waktu erat kaitannya dengan banyak statmen yang
tidak jelas sumbernya. Entah saya tidak menelusuri statmen tersebut untuk membuktikan kevalidannya tetapi
dari insting saya mengarah pada fakta bahwa benar adanya. saya menyadari dengan
landasan jauh-jauh hari sebelum
inisiatif tindakan menulis ini sudah eksis. Saya merasakan diri saya sangat
lelah ketika istrahat tidak begitu jelas porsinya.
Insting yang mengatakan
bahwa kondisimu harus seiring sejalan dengan pemahamanmu tentang kapan harus
istrahat dan melakukan aktivitas. Inilah wujud ketidaknyamanan saya pada waktu,
waktu yang mengikis sedikit demi sedikit kenyamanan ini. Apakah dalam hal
memang pantas saya menyalahkan waktu? Apakah waktu salah dengan simbol-simbol
perubahannya. Apakah saya menginginkan waktu berhenti saja? Hal itu mustahil. Saya
bisa menulis karena salah satu eksistensi waktu. Apakah saya pantas menyalahkan
waktu.
Saya memahami bahwa waktu
harus dimanfaatkan. Waktu harus dimanfaatkan dengan penuh kesadaran demi
kebaikan diri. Dimanfaatkan dengan porsi yang tepat dan berimbang agar stamina
tidak terkuras pada sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
Waktu ibarat kereta api yang
tidak akan pernah berhenti , dan tidak akan pernah berhenti sejenak menunggu
penumpang yang ingin naik. Sebaik-baik waktu adalah bermanfaat dan dikelola dengan bijaksana. Hal inilah yang
menjadikan saya paham akan kondisi saya saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar