Minggu, 31 Agustus 2014

apa itu "Cinta"?


untuk dapat memahami hakikat cinta, kita terkadang multitafsir. banyak kalangan yang memahami cinta hanya dengan pendekatan emosional. rasa yang kemudian tertuangkan dalam perkataan terkiat cinta. cinta tidak lain adalah cerminan rasa (baca  : hati), yang pada akhirnya akal sehat terabaikan. konsekuensi fenomena ini pun tiba gilirannya memunculkan pesimisme pada kalangan pemuda tentang eksistensi cinta, karena cinta kemudian ditafsirkan sesuai anggapan, cita rasa, dan faktor-faktor eksternal yang  ekstrim dalam merumuskan cinta. banyak kalangan pemuda yang asal mengklaim tentang cinta tersebut. cinta kemudian ditafsirkan sesuatu yang sangat menyakitkan, cinta adalah kasih sayang dan apabila didapati hal-hal yang kontradiksi pada dirinya seiring berjalannya waktu, berubahlah pemaknaan tentang cinta tersebut menjadi sesuatu yang menyakitkan. apakah cinta adalah konsekuensi kejadian, peristiwa yang pemaknaannya bisa berubah-ubah? terserah kemudian pemaknaan cinta  bak emosi yang selalu berubah-ubah. 

itulah fenomena pemuda kontemporer saat ini. cinta kemudian berfariasi dalam pemaknaannya seiring dengan rasa , pikiran yang selalu berubah-ubah. konsekuensi dari faktor internal dan eksternal yang menjadi acuan perubahan makna cinta. 


dalam memahami hakikat cinta adalah bukan hal baru. banyak kemudian filsuf-filsuf klasik sampai kontemporer, sufi , tokoh-tokoh dunia yang memahami cinta dengan sudut pandang berbeda-beda. tetapi bagi saya dalam memahami hakikat cinta tidak lain dengan memakai pendekatan pengikut yang agung, siapa lagi kalau bukan suri tauladan umat manusia di dunia Rasulullah saw. saya mengklaim pemaknaan cinta yang yang hakiki dan sebagai acuan saya dengan bersumber pada pemahaman tiba gilirannya pada tindakan Rasulullah saw. adalah keharusan bagi pemuda sekarang dalam memahami hakikat cinta dengan menelusuri kisah-kisah Rasulullah saw. 

saya tidak bisa nafikan cinta yang kemudian termanifestasi pada perjalanan hidup Rasulullah baik dari segi tindakan, perkataan beliau, tetap yang menjadi persoalan saat ini adalah bagaimana persepsi hakikat cinta pemuda generasi ini ketika zaman seiring berjalannya waktu selalu menggambarkan rasa, pikiran-pikiran yang dinamis. waktu dan lingkungan yang menjadi acuan pemuda dalam memaknai hakikat cinta.

adalah realitas yang tidak bisa kita ingkari ketika perubahan-perubahan setiap waktunya tak luput dalam pandangan kita. entah perubahan pada ranah konsep maupun tindakan. konsekuensi dari perubahan itulah yang sampai pada era saat ini ketika pemuda sudah tidak lagi sulit komunikasi dengan lawan jenisnya. teknologi menjadi kebutuhan primer bagi segelintir pemuda. pemuda tidak sulit lagi menyatakan perasaannya kepada lawan jenisnya, pemuda tidak merasa capeh lagi mengunjungi /memberitahukan kapan harus ketemuan dengan lawan jenisnya.

apakah seiring berjalannya waktu dengan perubahannya arti cinta juga ikut berubah? realitas saat ini juga tidak bisa kita nafikan cinta selalu diartikan dengan perasaan pemuda dengan lawan jenisnya? apakah ruang lingkup cinta hanya perasaan unik yang dirasakan seorang pemuda dengan lawan jenisnya? cinta selalu berputar putar pada wacana perasaan yang indah kepada lawan jenisnya. rasa suka menjadi cinta, yang kemudian menafikan rasa suka kepada binatang, benda-benda di alam, membuang sampah tidak pada tempatnya yang kemudian tempat umum sebagai lampiasan kemudahannya dalam membuang sampah, cinta tidak dimaknai lagi secara universal. 

Cinta kemudian dibatasi pada hal-hal yang berbau materi. cinta adalah suasana perasaan kepada wanita yang indah, cinta adalah hasrat untuk memiliki lawan jenisnya, cinta adalah gambaran naluriah seksual yang harus diluapkan pada lawan jenisnya. inilah fenomena pemuda-pemudi saat ini. sangat jauh berbeda dengan pemaknaan cinta yang dialami sosok mulia Rasulullah saw. konsekuensinya segelintir pemuda sudah sangat gampang menyatakan cinta hanya dengan berlandaskan nafsu seksual. apakah cinta identik dengan hal-hal yang berbau seksual? sedangkan di jepang dkotomi tentang cinta dan nafsu sangat jelas berbeda.

persepsi hakikat cinta pemuda kontemporer sudah mengalami massanya dengan capaian-capaian ilmu pengetahuan yang tidak bisa dimaknai secara bijaksana. masa yang selalu berkembang sejalan dengan perubahan tentang pemaknaan tentang cinta yang hakiki. tiba gilirannya cinta menjadi sangat terbatas. cinta identik dengan ekspresi seksual yang tertuangkan dalam kata-kata, tindakan. 

 kembali kemudian pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan, apakah cinta hanya sebatas itu kepada lawan jenis??? hanya sebatas melampiaskan hawa nafsu, hanya sekedar mengaktualkan rasa kagum, senang dan tiba gilirannya menembak lawan jenis dengan perantara syair-syair syahdu agar diterima dan kemudian menjalin hubungan dengan istilah "pacaran"?

tidak bisa dinafikan bahwa  yang kita lakukan saat ini , erat kaitannya dengan pemahaman sebelumnya. terkait persoalan cinta, yang kemudian termanifestasi dalam bentuk ucapan dan selanjutnya menjalin hubungan (baca : pacaran) ? seperti apa hakikat cinta yang sebenarnya? sejenak mengutip perkataan Sufi klasik Jalaludin Rumi , beliau pernah mengatakan "

Cinta yang dibangkitkan oleh khayalan yang salah dan tidak pada tempatnya bisa saja menghantarkannya pada keadaan ekstasi. Namun kenikmatan itu, jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang.


seperti ungkapan sosok sufi tersebut saya pahami dan benarkan. Cinta adalah keniscayaan Kindahan, kasih sayang, kemurnian rasa ingin membahagiakan, memelihara alam, sampai pada kecintaan kepada hal-hal kecil sekalipun. Cinta tidak terbatas pada hal-hal yang berbau materi, tetapi dibalik materi, cinta adalah anugerah terindah yang setiap orang memilikinya tetapi akibat kurangnya pemahaman tentang zaman dan sejarah akhirnya bergeser dari cinta yang hakiki. 

mari ubah pemahaman, persepsi ta tentang cinta yang terbatas kepada cinta yang tidak terbatas. ketidakterbatasan cinta bisa diperhatikan pada konsekuensif logis bahwa kita semua memiliki potensi kebaikan, saling membantu, menyayangi apa saja disekitar kita, memberi kebahagiaan kepada siapa saja, tolong menolong, memberi pesan kebaikan, terlebih cinta kepada ilmu pengetahuan, dan cinta Kepada sang Pencipta sebagai bukti kecintaan kita kepada semua karyaNya dialam yang kita naungi saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar