![]() |
| tidak ada batasan sahabat demi terwujudnya keajaiban |
suatu ketika saya pernah bingung
dengan duniaku, sandaran hati hati mulai bergeser perlahan, engkau hadir dengan
menciptakan suasana bak suasana dipuncak gunung. engkau hadir dengan tawaran
keikhlasan dari cara bicaramu, tindakanmu. bukan sebuah lelucon atau
kemunafikan.
suatu kondisi ketika realitas tidak
sepenuhnya berdampingan dengan susana hati ketika itu, engkau hadir dengan
tawaran secangkir kopi dengan tawaran sebatang rokok surya. sedikit demi
sedikit mengalami perubahan makna yang mengundang paradigma elok. apakah
paradigma elok itu? sangat abstrak dan memuakan ketika esensinya hanya sebatas
menahan diri demi kenyamanan hati, tetapi realitasnya tidak demikian.
tidak untuk menggambarkan sosok
sahabat dan tidak untuk mengungkap tabir sahabat pada umumnya dengan kesimpulan
yang baik. tetapi manakala pikiran dan rasa sudah berada pada realitas
eksternal dan kondisi spiritual yang ngambang, kemudian termanifestasi dalam
tulisan ini wahai sahabat.
saya tidak bijaksana menilai, tidak
kemudian meletakan pondasi keidentikanmu dengan penilaian orang lain yang
bijaksana agar saya mengikuti beliau. tetapi pernah kah kita bayangkan kondisi
hati dan pikiran pada waktu yang tepat dibalik keberadaanmu sejatinya dengan
pendekatan itu wahai sahabat.
dinamika emosional dan pikiran tidak
bisa saya nafikan sering saya alami. menafikan keberadaanmu adalah hal yang
mustahil bak meniadakan kesempurnaan wujud. pemahamanku saat ini memakai
pendekatan tindakan dengan konsekuensi disegala sisi perjalanan kehidupan. saya
tidak bisa menghapus keberadaanmu disisiku ketika suasana hati dan pikiranku
bergejolak atau ketika saya merasakan kenyamanan hati dengan keberadaan kopi
dan rokok.
adalah hal biasa saya mengalami
ketidaksepakatan denganmu dalam hal ide. adalah hal mustahil mengkalim dirimu
tidak baik karena pada dasarnya memang setiap orang berbeda pada tataran konsep
atau cara pandang. tetapi saya tidak bisa menghindar dari keadaan yang ingin
rasanya menghapus dirimu ketika kondisi hati dan pikiran ini sangat tidak
engkau ketahui dengan baik wahai sahabat.
saya selalu memaknai fenomena ini
adalah hal yang biasa. tetapi sadarkah engkau bahwa kamu tidak pahami saya?
sadarkah engkau tindakanmu tidak menggambarkan rasa kepedulian , rasa saling
peka dan sebagainya.
larut dalam kondisi yang ekstrim
manakala engkau sudah berusaha menjadikan dirimu sebagai tolak ukur kebenaran
dan melupakan fitrah dan potensi kebaikanmu?
inilah kondisi disaat pikiran dan
rasa mengalami degradasi orientasi. orientasi yang mulia terabaikan karena
belum bisa memanjakan dan menyeimbangkan kedua aspek terpenting dari segi
fungsional diri?
wahai sahabat ini bukan cambukan
buatmu , tetapi murni subjektif demi menghapus dan memerdekakan diri dan
menempatkan tiap-tiap fungsional diri pada tempatnya. menjaga salah satu
prinsip bahwasanya kebaikanlah yang kita berikan tak peduli konsekuensinya
sesuatu yang tidak diinginkan, masa bodoh yang penting kebaikan dan murni
keikhlasan. sangat susah mewujudkannya dalam tataran konsep wahai sahabat.
tindakan terkadang sering tidak
menggambarkan konsep yang tak tentu arah karena faktor suplay pengalaman yang
beraneka ragam. bisa dikatakan bahwa inilah fundamental ketidaknyamanan diri.
tetapi harus realistis dalam hal ini , adalah keadaan yang sebenarnya dan tidak
mungkin mengubah keadaan itu agar tidak terjadi. yang bisa dilakukan
selanjutnya adalah tidak terjadi lagi ketidaknyamanan itu.
objek sandarannya saat ini adalah
wahai sahabat engkau adalah pancaran cahaya yang memang selalu saya butuhkan
dalam kondisi apapun demi step-step yang mengarah pada pemahaman baru dan
bijaksana. terima kasih sahabat !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar