Selasa, 26 Agustus 2014

Wahai Sahabat

tidak ada batasan sahabat demi terwujudnya keajaiban
suatu ketika saya pernah bingung dengan duniaku, sandaran hati hati mulai bergeser perlahan, engkau hadir dengan menciptakan suasana bak suasana dipuncak gunung. engkau hadir dengan tawaran keikhlasan dari cara bicaramu, tindakanmu. bukan sebuah lelucon atau kemunafikan.

suatu kondisi ketika realitas tidak sepenuhnya berdampingan dengan susana hati ketika itu, engkau hadir dengan tawaran secangkir kopi dengan tawaran sebatang rokok surya. sedikit demi sedikit mengalami perubahan makna yang mengundang paradigma elok. apakah paradigma elok itu? sangat abstrak dan memuakan ketika esensinya hanya sebatas menahan diri demi kenyamanan hati, tetapi realitasnya tidak demikian.



tidak untuk menggambarkan sosok sahabat dan tidak untuk mengungkap tabir sahabat pada umumnya dengan kesimpulan yang baik. tetapi manakala pikiran dan rasa sudah berada pada realitas eksternal dan kondisi spiritual yang ngambang, kemudian termanifestasi dalam tulisan ini wahai sahabat.

saya tidak bijaksana menilai, tidak kemudian meletakan pondasi keidentikanmu dengan penilaian orang lain yang bijaksana agar saya mengikuti beliau. tetapi pernah kah kita bayangkan kondisi hati dan pikiran pada waktu yang tepat dibalik keberadaanmu sejatinya dengan pendekatan itu wahai sahabat.

dinamika emosional dan pikiran tidak bisa saya nafikan sering saya alami. menafikan keberadaanmu adalah hal yang mustahil bak meniadakan kesempurnaan wujud. pemahamanku saat ini memakai pendekatan tindakan dengan konsekuensi disegala sisi perjalanan kehidupan. saya tidak bisa menghapus keberadaanmu disisiku ketika suasana hati dan pikiranku bergejolak atau ketika saya merasakan kenyamanan hati dengan keberadaan kopi dan rokok.

adalah hal biasa saya mengalami ketidaksepakatan denganmu dalam hal ide. adalah hal mustahil mengkalim dirimu tidak baik karena pada dasarnya memang setiap orang berbeda pada tataran konsep atau cara pandang. tetapi saya tidak bisa menghindar dari keadaan yang ingin rasanya menghapus dirimu ketika kondisi hati dan pikiran ini sangat tidak engkau ketahui dengan baik wahai sahabat.

saya selalu memaknai fenomena ini adalah hal yang biasa. tetapi sadarkah engkau bahwa kamu tidak pahami saya? sadarkah engkau tindakanmu tidak menggambarkan rasa kepedulian , rasa saling peka dan sebagainya.

larut dalam kondisi yang ekstrim manakala engkau sudah berusaha menjadikan dirimu sebagai tolak ukur kebenaran dan melupakan fitrah dan potensi kebaikanmu?

inilah kondisi disaat pikiran dan rasa mengalami degradasi orientasi. orientasi yang mulia terabaikan karena belum bisa memanjakan dan menyeimbangkan kedua aspek terpenting dari segi fungsional diri?

wahai sahabat ini bukan cambukan buatmu , tetapi murni subjektif demi menghapus dan memerdekakan diri dan menempatkan tiap-tiap fungsional diri pada tempatnya. menjaga salah satu prinsip bahwasanya kebaikanlah yang kita berikan tak peduli konsekuensinya sesuatu yang tidak diinginkan, masa bodoh yang penting kebaikan dan murni keikhlasan. sangat susah mewujudkannya dalam tataran konsep wahai sahabat.

tindakan terkadang sering tidak menggambarkan konsep yang tak tentu arah karena faktor suplay pengalaman yang beraneka ragam. bisa dikatakan bahwa inilah fundamental ketidaknyamanan diri. tetapi harus realistis dalam hal ini , adalah keadaan yang sebenarnya dan tidak mungkin mengubah keadaan itu agar tidak terjadi. yang bisa dilakukan selanjutnya adalah tidak terjadi lagi ketidaknyamanan itu.

objek sandarannya saat ini adalah wahai sahabat engkau adalah pancaran cahaya yang memang selalu saya butuhkan dalam kondisi apapun demi step-step yang mengarah pada pemahaman baru dan bijaksana. terima kasih sahabat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar