bagi saya menulis adalah
mengarang, mengetik pada keyboard. menulis identik dengan pena dan buku kosong
, kertas dan selanjutnya merangkai kata demi kata sehingga menjadi susunan-susunan
kata (kalimat) selanjutnya membentuk paragraf. jadi ternyata lebih tepatnya
mengetik atau mengarang. tetapi kita harus apresiasi pemahaman kalangan karena
sudah tertanam dalam-dalam tentang fenomena menulis sebagai suatu istilah bagi
seorang yang mempunyai karya tulis. dan kita harus gunakan istilah itu agar
dapat dipahami kalangan tersebut.
saya memahami bahwa menulis
adalah tindakan yang gampang-gampang susah ketika seseorang hendak mau menulis.
tetapi apakah kita sadari realitas dibalik kemalasan menulis. kemalasan yang
membuat mereka tidak bisa mengespresikan jiwa , pikiran, dan rasanya
(baca : hati)?
memahami fakta dibalik
kemalasan menulis, saya memakai pendekatan pada diri saya dan kemudian mengkaji
fenomena yang terjadi ketika hendak mengalami kemalasan menulis. saya bingung
tulisan seperti apa yang ingin saya tulis. tulisan yang bisa membuat saya
merasa nyaman. tulisan yang bisa mengungkap ekspresi dibalik realitas saat itu
terkait faktor eksternal yang saya alami.
ternyata, dibalik kemalasan
menulis tersimpan fakta. fakta yang tidak ditransformasikan dalam bentuk
tulisan. fakta itu adalah pikiran yang tidak mengarah pada realitas yang
dialami. dalam hal ini realitas dimana kita tidak peka mengidentifikasi
apa yang kita alami pada kondisi tertentu. tidak bisa dinafian lagi semua orang
mengalami hari-hari dengan pengalaman-pengalaman , suasana hati, pikiran yang
berbeda-beda. saya dalam kondisi ini , pikiran saya mengarah pada fakta dibalik
kemalasan menulis. pikiran saya mengarah ke topik itu dan kemudian
termanifestasi dalam bentuk tulisan. inilah hasil pikiran saya terkait kondisi
saat ini.
menulis bukan hanya
persoalan topik yang ingin ditulis karena tuntutan pekerjaan, menulis bukan
hanya persoalan kejar deadline berita, tetapi menulis adalah berbicara dengan
diri apa yang dialami diri pada kondisi tertentu.
tetapi dibalik keengganan
menulis adalah keniscayaan pengalaman, kisah setiap orang. tetapi hasrat ingin
menulis tidak terwujud pada dirinya yang kemudian menulis adalah tindakan yang
tidak menguntungkan. menulis cuma buang-buang waktu , banyak hal yang lebih
bermanfaat apabila dibandingkan dengan menulis. menulis tidak penting seperti
itulah klaim beberapa orang yang saya temui.
kemalasan menulis adalah
keniscayaan bagi segelintir orang yang tidak memahami hakikat menulis. padahal
hakikat menulis erat kaitannya dengan proses identifikasi diri, proses
perkembangan intelektual, rasa agar tergambarkan dan abadi manakala apa yang
didapati seiring berjalannya waktu terlupakan seiring cuaca yang terus berubah.
menulis adalah realitas
dimana anda mau mengungkap apa yang anda ketahui. menulis bukan semata
menciptakan karya yang baik, tetapi bagaimana kemudian dengan tulisan bisa
membuat anda nyaman, dan bisa mengabadikan kisah anda.
dibalik kemalasan menulis
terdapat realitas diri yang jauh dari pemahaman pentingnya menulis. dibalik
kemalasan menulis adalah keniscayaan tentang kurangnya pemahaman akan diri dan
lingkungan. dibalik kemalasan menulis terselip makna yang bisa diabadikan dalam
bentuk tulisan. itulah realitas dibalik kemalasan menulis.
apa saja bisa ditulis.
terserah kemudian orang-orang mengklaim hasil tulisan. tidak perlu menghabiskan
energi dengan penilaian orang lain. sampa saat ini tulisan saya sama sekali
tidak berbobot tetapi orientasi saya menulis demi terealisasinya ekspresi jiwa,
pikiran dan rasa. bukan cuma itu orientasi saya menulis demi menciptakan
kenyamanan, kemerdekaan berpikir, dan mengabadikan pemahaman seiring
berjalannya waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar