Kamis, 02 April 2015

Fenomena lapar mahasiswa

Dewasa ini melihat fenomena lapar sudah menjadi fakta untuk selanjutnya ditindaklanjuti demi menghilangkan rasa lapar. Cara efisien dengan makan. Makan apa saja asal kenyang menurut orang yg tidak bisa menggapai makanan yg diinginkan. Okelah. Saya juga pada saat tertentu , atau dalam kondisi sangat lapar fungsional akal saya sangat bekerja ekstra demi pemenuhan kebutuhan yang sangat fundamental ini dan selanjutnya menggerakan seluruh tubuh demi mendapatkan makanan. tidak hanya itu, Lapar juga merupakan fenomena yang sangat menguras emosional bahkan spiritual seseorang. Itu pemahaman saya saat ini.

Menguras yaitu mengambil beberapa fungsional dari aspek yang sangat terkait dengannya, dalam hal ini emosional, intelektual, spiritual. Dalam tulisan ini saya  memakai pendekatan pada diri saya yang notabene sebagai mahasiswa Manakala lapar melanda saya. ketika dalam kondisi tersebut biasanya saya kemudian tak jarang dihadapkan pada beberapa realitas dilingkungan saya, realitas yang sangat menguras emosional saya, saya melihat orang-orang dilingkungan saya makan bersama,  mereka mengajak saya, tak jarang pula tidak mengajak saya, tetapi apabila mereka mengajak saya  dilain sisi saya lebih memilih tidak ikut ajakannya karena persoalan makananya hanya untuk mereka, dalam hal ini saya mengikuti suara hati saya karena lebih peduli karena apabila saya menerima ajakannya , seolah-olah saya mengurangi kenyamanannya karena makananya hanya cukup mereka. Dalam kondisi itu saya ingin sekali makan, karena saya juga merasakan lapar , tetapi saya sebisa mungkin mengendalikan diri saya. yang saya pahami saat itu adalah menahan lapar sangat baik demi perkembangan diri saya, saya harus belajar menahan lapar demi terealisasinya control diri yang baik. 

Tak jarang pula, dalam kondisi tertentu dalam kondisi lapar saya, pikiran saya mencari alternative agar cepat kenyamanan ini tercapai, pikiran saya manakala makanan tidak saya peroleh karena persoalan uang tidak ada, lingkungan juga sangat terbatas demi memperoleh makanan dengan cara yang ikhlas, pada akhirnya fungsi akal saya sangat terkuras,,, dalam kondisi itu pada akhirnya pernah saya meminjam uang kepada siapa saja dengan pertimbangan mereka meminjamkan dengan ikhlas. Itu yang kemudian saya lakukan. Dalam kondisi itu terkadang saya sangat sulit mengontrol diri. (bca : pikiran).
Fenomena lapar merupakan hal yang sangat indah apabila terlihat makanan yang lezat di depannya dan tak berselang lama langsung menyantap makanan itu. Tetapi apalah daya apabila dalam kondisi lapar , manakala ada makanan , sampai pada makanan lezat tetapi kita hanya diam terpaku mencium aroma harum makanan itu, tidak bisa memakannya. Kita hanya berdoa pada tuhan agar rasa sakit yang entah dimana sumber sakitnya itu secepatnya hilang. Fenomena tersebut kebanyakan dilanda mahasiswa manakala kiriman habis , perut belum terisi sejak pagi hingga malam dan ketika itu pula tetangga kost memasak masakan yang lezat tetapi kita tidak bisa menggapai makanan itu karena persoalan malu atau belum akrab. Hehe
Lapar merupakan fenomena tubuh manakala tubuh membutuhkan suplay energy agar kemudian tubuh kembali menembukan keseimbangannya sehingga bisa menjalankan fungsinya. Dari makanan kemudian diubah menjadi sel-sel darah merah yang kemudian bisa menghasilkan energy. Itu sedikit pemahaman saya tentang makanan. tetapi saya pernah mendengar tentang orang yang bisa menghasilkan energy tanpa membutuhkan suplay makanan, yg dibutuhkan hanya menyerap energy kosmos dan kemuidan ditransformasi menjadi energy buat dirinya. pikiran saya saat ini masih ingin menyelidiki dibalik statmen tersebut. Hehe
Rasa lapar dilihat dari pendekatan psikologi, merupakan fenomena masing-masing individu dalam memahaminya, tetapi tak jrang dari beberapa tuntutan penjelasan saya diatas sudah sangat mewakili mahasiswa kontemporer. Dan sedikit saya tambahkan , fenomena lapar juga bagi segelintir mahasiswa dilingkungan yang saya amati dengan saksama merupakan hal yang sangat tidak begitu dipersoalkan. Pernah suatu waktu saya mendapati senior saya yang menolak makan , beliau lebih memilih membaca buku, padahal saya bisa gambarkan tawaran itu tertuju kepada teman saya yang sudah saling mengenal. Saya berani katakana senior yang saya ajak makan tersebut lapar, tetapi pikiran ke lapar sangat sedikit, pikiran untuk menyerap ilmu yang ada dibuku sangat besar yang terlihat dari sikapnya yang sangat konstan. Saya berani nyatakan bahwa lapar bagi segelintir orang adalah persoalan klasik yang tidak perlu membuang banyak energy apalagi sampai menguras energy. Lapar hanya persoalan waktu, apabila bisa dikendalikan kita bisa memberdayakan potensi diri.
Ada juga saya sering mendapati beberapa mahasiswa sangat doyan makan. Maksudnya ketika melihat lagi makanan yang menurutnya enak tak berpikir panjang langsung menyantapnya ketika ditawarkan makan oleh temannya, padahal belum merasakan lapar sama sekali. Demi mengikuti nafsu makan tinggi yang pada akhirnya menjadi budak dari nafsu itu sendiri.
Fenomena lapar adalah adalah fenomena yang sangat klasik bagi mahasiswa serta merupakan persoalan yang sangat sering dilanda mahasiswa seperti saya. lapar untuk kemudian menghilangkannya dengan makan seadanya adalah hal yang baik tetapi apalah daya pernah ketika melihat teman lapar dan tiba saatnya makan , weleh,, makannya sangat banyak, tiba gilirannya dia mengeluh sendiri makannya terlalu kebanyakan yang pada akhirnya memakai prinsip hidup ular, ular bisa dipastikan ketika kekenyangan langsung tidur, istrahat yang kemudian membatasi ruang gerak yang masih bisa diarahkan kepada hal-hal produktif apalagi sebagai mahasiswa.
Fenomena lapar ditinjau dari aspek agama merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Itulah kenapa dalam Islam sangat dianjurkan berpuasa, selain menahan lapar juga secara tidak langsung menonaktifkan nafsu. Saya sempat mengutip pernyataan Rasulullah saw , kurang lebih redaksinya seperti ini “'Berperang' melawan diri sendiri (nafsu) lebih berat ketimbang berperang dalam peperangan”. Dalam Islam sangat dianjurkan berpuasa terlebih berpuasa pada bulan Ramadhan. Itulah kenapa Puasa sangat memberi kontribusi yang baik bagi perkembangan spiritual anda.
Lapar,,, lapar…  hehehe…









Tidak ada komentar:

Posting Komentar