Kamis, 28 Agustus 2014

KEBUNTUAN MENULIS

Apa hendak dilakukan ketika sedang menulis, merangkai kata demi kata dan selanjutnya tidak berselang lama pikiran tidak fokus lagi, pikiran melayang/melanglang buana, tak tentu arah. banyak penulis pemula yang mengalami fenomena ini. terlebih juga sedang menulis sajak, esai, kisah yang keluar dari rasa (baca : hati) selanjutnya berhenti ditengah jalan? bahasa kasarnya ini adalah kebuntuan menulis.

fenomena tersebut yang mengarahkan saya sampai sejauh ini menulis pada blog pribadi ini. menulis demi mengungkap apa dibalik fenomena tersebut. fenomena yang objek kajiannya terkadang membingungkan. apa yang harus diperhatikan ketika fenomena tersebut terjadi lagi atau sering terjadi dalam kondisi sedang menulis. 

mengungkap fenomena ini saya harus hati-hati karena bisa multitafsir. tetapi saya memakai metode atau pendekatan pada diri saya ketika pernah mengalami fenomena kebuntuan ini. jujur saya sangat tidak nyaman ketika dihdapkan pada kejadian ini. itulah selanjutnya saya harus sedetail mungkin mengungkap dibalik ini semua.

Bando Silver

Before

After  
ditengah rambut yang sudah memperlihatkan kelebatannya (baca : panjang), banyak perubahan yang terjadi diantaranya tampilan wajah yang makin beda dari sebelumnya dan terlebih apa yang saya alami ketika rambut menutupi mata, hal itu terkadang mengganggu pandangan saya ketika sedang fokus akan suatu hal yang saya lakukan. tetapi semua itu terkecualikan dengan kehadiran bando silver yang saya beli ketika hendak mau ke makassar yaitu di kota baubau (baca : buton) provinis sulawesi tenggara.

dibalik seorang kutu buku


Sedang menikmati kopi dan roko dunhil di kantin samping rektorat uin alaudin
apa hendak dicari atau tujuan dari seorang kutubuku? apakah motivasi seorang kutubuku? pertanyaan itu yang selanjutnya termanifestasi dalam tulisan ini, berusaha mengungkap pertanyaan fundamental dari seorang penggiat buku , dalam hal ini seseorang yang hobi membaca, sampai-sampai pada hasrat manakala tidak ada buku terlihat sangat merindukan buku.

seorang kutu buku adalah penggiat buku, hobi membaca buku entah buku apa saja, yang pada esensinya ingin membaca demi capaian pemahaman baru sehingga dijadikan pengalaman , tidak lain demi mewujudkan potensi diri yang tidak setengah-setengah.

seorang kutu buku adalah seorang yang tersimpan wawasan dari apa yang pernah dibacanya dari buku tertentu. buku yang kemudian mengubah cara pandangnya, baik yang mengarah pada kebaikan maupun kepada hal-hal yang berbau negatif sekalipun. 

Rabu, 27 Agustus 2014

Realitas kehidupan?

Bagi pembaca sekalian, saat ini adalah realitas dimana anda sedang membaca postingan atau apalah namanya (artikel mungkin) beriringan dengan realitas anda dihadapkan pada layar laptop, tab, mobile, bisa jadi teknologi mutakhir yang penulis belum ketahui. dan realitas juga dimana segala fungsional diri anda sedang saling terkait baik pikiran, rasa, naluri atau insting entah fungsional mana yang lebih dominan.

sangat kompleks realitas kehidupan dimana saat ini kita berada dalam kondisi yang masih bernapas sambil meneguk kopi yang sudah lama dikena angin sepoi-sepi dan tiba gilirannya tidak lagi pada realitas yang diinginkan yaitu terlanjur dingin (mungkin) atau aktivitas yang sama sekali penulis tidak ketahui tetapi itulah realitas kehidupan yang tidak bisa kita nafikan eksistensinya.

Memaknai segelas kopi, rokok dikeheningan malam


dua benda yg membuat pikiran tenang dan hati damai



apa sebenarnya dibalik keberadaan segelas kopi dan rokok surya di sisiku? saya saat ini sedang menganalisis arti kehadiran kedua benda itu, dengan pendekatan rasa dan analisis historis jalan pikiran yang selama ini eksis seiring kehadiran dua benda itu.

gampang gampang susah mengungkap tabir dibalik kehadiran kedua benda itu. kenapa tidak banyak pertimbangan yang kemudian menjadi rancu atau susah ketika saya merasa ragu dengan pernyataan saya ini karena saya sangat tidak ingin pernyataan ini yang kemudian tidak sesuai dengan realitas yang saya rasakan dan pikirkan  dalam hal ini menyangkut secara keseluruhan.

Selasa, 26 Agustus 2014

Wahai Sahabat

tidak ada batasan sahabat demi terwujudnya keajaiban
suatu ketika saya pernah bingung dengan duniaku, sandaran hati hati mulai bergeser perlahan, engkau hadir dengan menciptakan suasana bak suasana dipuncak gunung. engkau hadir dengan tawaran keikhlasan dari cara bicaramu, tindakanmu. bukan sebuah lelucon atau kemunafikan.

suatu kondisi ketika realitas tidak sepenuhnya berdampingan dengan susana hati ketika itu, engkau hadir dengan tawaran secangkir kopi dengan tawaran sebatang rokok surya. sedikit demi sedikit mengalami perubahan makna yang mengundang paradigma elok. apakah paradigma elok itu? sangat abstrak dan memuakan ketika esensinya hanya sebatas menahan diri demi kenyamanan hati, tetapi realitasnya tidak demikian.

Sang Pengelana


mencari simbol-simbol kesadaran universal

saya berada dalam kondisi nyaman. apapun yang saya hadapi , dapatkan tak luput dan selalu mengarah pada kenyamanan. hari-hariku tak lain adalah berkelana. berkelana pada tempat-tempat yang pernah saya kunjungi yang membuat suasana pikiran dan hati bersahaja serta bersandar pada tempat yang empuk sampai pada tempat-tempat yang baru dengan harapan susana hati lebih baik dari sebelumnya.

apakah yang engkau cari wahai pengelana? tidakkah rutinitasmu itu hanya mencari kenyamanan hati?
entahlah. pertanyaan itu selalu berputar-putar dikapalaku dan tak jarang suasana hatiku tidak bergeser dari sandaran empuknya kepada sandaran yang terasa kasar.
kemudian berusaha memahami dibalik sosok pengelana. tidak lain dan tidak bisa dinafikan adalah demi kenyamanan hati, kebebasan pikiran, dan ekspresi diri yang tak terhindarkan. dengan itu apa yang saya alami saat ini tidak lain kolaborasi aspek-aspek fungsional diri saya demi kenyamanan, kebebasan yang tercermin dari tindakan saya yang tidak mengarah pada kontrol manusia yang tidak sepaham.