Bersyukur
umumnya sikap diri untuk berterima kasih kepada apa yang telah didapati dalam
kehidupan. dalam persepektif saya bersyukur adalah melapangkan hati ,
menyandarkan hati kepada Dzat yang tidak terbatas.
Dalam
menjalani kehidupan sehari-hari banyak hal yang kita dapatkan yang kemudian
diteruskan ke hati dan pikiran. hati dan pikiran bak medium penangkap signal
yang kita dapatkan dalam fenomena kehidupan sehari-hari dari pengalaman
empiris. dari pengalaman empiris tersebut hati dan pikiran menjadi sesuatu yang
sangat fundamental untuk mengontrol suplay dari luar diri untuk membentuk sikap
diri yang tidak bergeser dari kehendak diri yang tidak merugkan orang lain atau
sebaliknya merugikan orang lain bahkan dunia sekitar.
Dewasa
ini, dalam menjalani hari-hariku, ke kantor, pulang kantor dan pada akhirnya
tiba di kost tak jarang saya mendapati pikiran dan rasa mengalami pergeseran
yang terkadang nyaman kadang tidak nyaman. Terkadang rasa marah, sedih, emosi
melimpah, cemas, dll. pikiran juga terkadang mengarah pada hal hal yang
membingungkan untuk selanjutnya ditindaklanjuti. ilustrasinya seperti mendapati
sesuatu yang membutuhkan pemecahan tetapi apalah daya ketika solusi belum
sampai pada keharusan untuk terhapusnya pencarian itu , mungkin akibat
sedkitnya wawasan akan sesuatu yang didapati sebelumnya.
Rasa
juga sangat sering melanda diri saya ketika berada di kantor dengan
bermacam-macam tipikal, karakter manusia yang notabene teman-teman kantor,
begitu halnya di kost dengan inisiatif menyendiri akan lebih baik meminimalisri
kebisingan di kantor. terkadang juga ketika rasa ingin keluar muncul , tak
tanggung-tanggung pikiran sangat merespon dan sepersekian detiknya langsung
bisa memerintah fungsional tubuh untuk melangkahkan kaki keluar kost untuk
menikmati santapan indra di sekitar. mudah-mudahan ekspektasi kenyamanan akan
segera menyemput saya dengan berlandaskan believe saya.
Dalam
hal ini tidak untuk kemudian mengeluh persoalan rasa yang cenderung pada
hal-hal yang tdak nyaman, tetapi untuk mengevaluasi bersyukur yang saya pahami
seperti apa manifestasinya dalam keseharian saya. apakah selama ini saya
bersyukur kemudian saya mendapati diri semakin dinamis, lebih baik lagi sebelum
dan sesuah saya menulis celoteh ini? harpan saya adalah pemaknaan rasa syukur
itu bisa kemudian membimbing saya untuk lebih memahami makna dari kehidupan
untuk menjalani hidup yang tak luput dari rasa syukur itu sendiri.
mendengar
perkataan dari Buya Hamka dalam salinan dakwah pada handphone saya yang sudah
agak lama saya download di youtube dengan judul ceramah "bersyukur" ,
saya mengutip perkataan beliau yang saat ini sangat jelas teringat pada bagian
dari diri saya dan alhamdulillah bisa saya tuliskan isi perkataan beliau
bahwasanya, sudah sepatutnya manusia harus bersyukur pada nikmat Tuhan yang
tidak bisa dihitung banyaknya, andaikan komputer canggih bisa menghitung
bilangan yang paling banyak, sampai pada komputer itu rusak, niscaya tidak akan
bisa menghitung bilangan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada Manusia. jadi
sudah sepatutnya kita harus bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah
diberikan kepada kita. banyak yang luput dari pandangan kita akan nikmat Tuhan,
contohnya buah-buahan diluar sana siapalagi kalau bukan untuk kita, kalau kita
bertanya kepada Kambing, Sapi kenapa engkau gemuk? niscaya jika sapi dan
kambing bisa berbicara, kambing dan sapi akan menjawab aku ini untuk kamu.
Dari
perkataan Ulama Buya Hamka menyadarkan saya akan pentingnya rasa syukur itu
kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari sebagai bentuk terima kasih kepada
Tuhan yang sampai saat ini tidak bisa kita hitung blangan berapa nikmat yang
telah Allah persembahkan kepada kita semua.
Dalam
tulsian ini mudah-mudahan bisa membuat saya menjadi lebh baik dari hari
sebelumnya.
Terima
kasih.
#Hanya
sebatas Celoteh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar