Rabu, 12 Agustus 2015

Bersyukur

Bersyukur umumnya sikap diri untuk berterima kasih kepada apa yang telah didapati dalam kehidupan. dalam persepektif saya bersyukur adalah melapangkan hati , menyandarkan hati kepada Dzat yang tidak terbatas.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari banyak hal yang kita dapatkan yang kemudian diteruskan ke hati dan pikiran. hati dan pikiran bak medium penangkap signal yang kita dapatkan dalam fenomena kehidupan sehari-hari dari pengalaman empiris. dari pengalaman empiris tersebut hati dan pikiran menjadi sesuatu yang sangat fundamental untuk mengontrol suplay dari luar diri untuk membentuk sikap diri yang tidak bergeser dari kehendak diri yang tidak merugkan orang lain atau sebaliknya merugikan orang lain bahkan dunia sekitar.


Dewasa ini, dalam menjalani hari-hariku, ke kantor, pulang kantor dan pada akhirnya tiba di kost tak jarang saya mendapati pikiran dan rasa mengalami pergeseran yang terkadang nyaman kadang tidak nyaman. Terkadang rasa marah, sedih, emosi melimpah, cemas, dll. pikiran juga terkadang mengarah pada hal hal yang membingungkan untuk selanjutnya ditindaklanjuti. ilustrasinya seperti mendapati sesuatu yang membutuhkan pemecahan tetapi apalah daya ketika solusi belum sampai pada keharusan untuk terhapusnya pencarian itu , mungkin akibat sedkitnya wawasan akan sesuatu yang didapati sebelumnya.

Rasa juga sangat sering melanda diri saya ketika berada di kantor dengan bermacam-macam tipikal, karakter manusia yang notabene teman-teman kantor, begitu halnya di kost dengan inisiatif menyendiri akan lebih baik meminimalisri kebisingan di kantor. terkadang juga ketika rasa ingin keluar muncul , tak tanggung-tanggung pikiran sangat merespon dan sepersekian detiknya langsung bisa memerintah fungsional tubuh untuk melangkahkan kaki keluar kost untuk menikmati santapan indra di sekitar. mudah-mudahan ekspektasi kenyamanan akan segera menyemput saya dengan berlandaskan believe saya.

Dalam hal ini tidak untuk kemudian mengeluh persoalan rasa yang cenderung pada hal-hal yang tdak nyaman, tetapi untuk mengevaluasi bersyukur yang saya pahami seperti apa manifestasinya dalam keseharian saya. apakah selama ini saya bersyukur kemudian saya mendapati diri semakin dinamis, lebih baik lagi sebelum dan sesuah saya menulis celoteh ini? harpan saya adalah pemaknaan rasa syukur itu bisa kemudian membimbing saya untuk lebih memahami makna dari kehidupan untuk menjalani hidup yang tak luput dari rasa syukur itu sendiri.

mendengar perkataan dari Buya Hamka dalam salinan dakwah pada handphone saya yang sudah agak lama saya download di youtube dengan judul ceramah "bersyukur" , saya mengutip perkataan beliau yang saat ini sangat jelas teringat pada bagian dari diri saya dan alhamdulillah bisa saya tuliskan isi perkataan beliau bahwasanya, sudah sepatutnya manusia harus bersyukur pada nikmat Tuhan yang tidak bisa dihitung banyaknya, andaikan komputer canggih bisa menghitung bilangan yang paling banyak, sampai pada komputer itu rusak, niscaya tidak akan bisa menghitung bilangan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada Manusia. jadi sudah sepatutnya kita harus bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada kita. banyak yang luput dari pandangan kita akan nikmat Tuhan, contohnya buah-buahan diluar sana siapalagi kalau bukan untuk kita, kalau kita bertanya kepada Kambing, Sapi kenapa engkau gemuk? niscaya jika sapi dan kambing bisa berbicara, kambing dan sapi akan menjawab aku ini untuk kamu.

Dari perkataan Ulama Buya Hamka menyadarkan saya akan pentingnya rasa syukur itu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan yang sampai saat ini tidak bisa kita hitung blangan berapa nikmat yang telah Allah persembahkan kepada kita semua.

Dalam tulsian ini mudah-mudahan bisa membuat saya menjadi lebh baik dari hari sebelumnya.
Terima kasih.
#Hanya sebatas Celoteh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar