Ketika kita mendengar kata mahasiswa yang kemudian terbesit dibenak saya dan
mungkin anda adalah seorang intelektual, seorang akademisi yang cakap dengan
disiplin ilmu yang dibidanginya pada universitas/perguruan tinggi tertentu.
yang kemudian membentuk pemahaman akan indahnya dunia kampus yang syarat akan
pertambahan hal baru dalam daftar agenda kesehariannya, daftar kesibukannya dan
daftar perjuangannya sebagai wadah untuk meraih impiannya.
Universitas sebagai kelanjutan dari
Sekolah Menengah atas atau biasa disingkat SMA merupakan suatu tantangan baru,
suatu kondisi dan keadaan baru ketika baru menginjakan kakinya di kampusnya,
yang kemudian diarahkan dosen atau seniornya dengan tujuan memperkenalkan
kampus, dan segala hal terkait aktivitas yang dijalaninya nanti selama beberapa
tahun kemudian. entah itu ruang kuliah, lokasi auditrium, laboratorium,
perpustakaan, bank, klinik kesehatan dll. yang kemudian berefek pada psikologi
mahasiswa yang memperlihatkan begitu banyaknya segala hal yang dibutuhkan,
segala hal yang nanti akan dipertemukannya, dikunjuginya, demi menunjang
aktivitas dan kebutuhannya.
Tak jarang juga kemudian terbesit
dalam benak mahasiswa akan perbedaan yang mendasar antara sekolah menengah dan
saat ini yang dinaunginya yaitu yang sering didengarnya sebelum lulus
"kampus". kampus kata yang baru ketika mendengar isyu dari temannya
terkait kedepan setelah lulus dibangku sekolah menengah atas. hasrat kemudian
eksis pada diri individu tersebut ketika dalam kondisi itu mendengar bahwa
kuliah dipenuhi oleh orang-orang yang berani menentang pemerintah yang terlihat
ketika di jalan menyuarakan aspirasi rakyat dengan membakar ban demi satu
tujuan yaitu kesejahteraan rakyat. tidak menutup kemungkinan banyak hal yang
menjadi penyebab mahasiswa ingin kuliah, bukan cuma keinginan untuk berdiri di
jalan nantinya. tuntutan hobi, masa depan, titel sarjana, mendapatkan pekerjaan
yang layak dll. tidak bisa dinafikan menjadi alasan melanjutkan studinya lebih
tinggi lagi.
Mahasiswa itulah kata yang sering didengarnya. penggabungan kata maha dan siswa. terlihat waow dan fantastis, enak didengar ketika kata itu dilayangkan oleh tetangganya di kampung, orang terkedatnya yang mungkin tidak melanjutkan studinya, atau malah orang tuanya dengan wajah penuh pengharapan agar cepat selesai kuliah demi tuntutan ekonomi dan sejenisnya. entahlah. apa yang menjadi pemahaman mereka sebenarnya memanggil mahasiswa. apakah mereka paham akan makna dari mahasiswa itu? manakala kita ketika berhadapan dengan senior di kampus kemudian didengungkannya, dengan irama yang terukur, nada yang sinergis dengan suara, mimik wajah yang cenderung memperlihatkan ketegasan, terkolaborasi dalam bahasa yang enak didengar sehingga menyatu dalam istilah retorika ketika istilah itu sudah diketahuinya melalui buku, istilah yang dipopulerkan aristoteles seorang filsuf klasik.
Senior pun mengulang pentingnya mahasiswa. mahasiswa yang kemudian mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menegakkan good governance. mendampingi rakyat atas nama rakyat dan keadilan itulah visi yang selalu di junjung tinggi. dan masih banyak lagi retorika yang disampaikan oleh senior yang bisa menghegemoni pemahaman kita demi menegaskan/memastikan itulah peran mahasiswa. peran dan fungsi pun kolaborasi dalam satu kesatuan, satu suara yang mengantarkan mereka ke jalan, menyuarakan hak dan kewajibannya, menyuarakan penegakkan hukum dll. demi Indonesia yang lebih baik.
Mahasiswa itulah kata yang sering didengarnya. penggabungan kata maha dan siswa. terlihat waow dan fantastis, enak didengar ketika kata itu dilayangkan oleh tetangganya di kampung, orang terkedatnya yang mungkin tidak melanjutkan studinya, atau malah orang tuanya dengan wajah penuh pengharapan agar cepat selesai kuliah demi tuntutan ekonomi dan sejenisnya. entahlah. apa yang menjadi pemahaman mereka sebenarnya memanggil mahasiswa. apakah mereka paham akan makna dari mahasiswa itu? manakala kita ketika berhadapan dengan senior di kampus kemudian didengungkannya, dengan irama yang terukur, nada yang sinergis dengan suara, mimik wajah yang cenderung memperlihatkan ketegasan, terkolaborasi dalam bahasa yang enak didengar sehingga menyatu dalam istilah retorika ketika istilah itu sudah diketahuinya melalui buku, istilah yang dipopulerkan aristoteles seorang filsuf klasik.
Senior pun mengulang pentingnya mahasiswa. mahasiswa yang kemudian mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menegakkan good governance. mendampingi rakyat atas nama rakyat dan keadilan itulah visi yang selalu di junjung tinggi. dan masih banyak lagi retorika yang disampaikan oleh senior yang bisa menghegemoni pemahaman kita demi menegaskan/memastikan itulah peran mahasiswa. peran dan fungsi pun kolaborasi dalam satu kesatuan, satu suara yang mengantarkan mereka ke jalan, menyuarakan hak dan kewajibannya, menyuarakan penegakkan hukum dll. demi Indonesia yang lebih baik.
Bukan cuma itu, ketika seorang
mahasiswa dengan basic struktur yang berbeda, pemahaman akan makna dibalik apa
yang didapat, entah itu senior, orang tua, kakak kandung, guru spiritual, dan
lain-lain yang kemuidan berdampak pada tindakan dan aktivitas berbeda adalah
faktor yang akan menjadikan mahasiswa itu mengalami kebiasaan yang
berbeda-beda. itulah yang kita kenal saat ini, mahasiswa yang lebih
mementingkan akademik, fokus belajar, mendapat prestasi yang diinginkan, dan
terus mengerjakan tugas, dan final dengan tepat dan benar. kemudian terlihat
juga mahasiswa yang lebih mementingkan organisasi, paguyuban, komunitas,
kelompok tertentu. dia yang kemudian memahami konsepnya bahwa organisasilah
yang menjadi faktor terpenting demi kebaikan dirinya kelak, demi kenyamannnya.
itulah kenyamanannya. itulah yang dipahaminya, itulah yang terbaik buatnya.dan
dia selalu pahami bahwa apapun yang dilakukannya demi tujuannya, demi visinya
demi kebaikannya.
Saat dimana ada juga mahasiswa yang
tidak begitu dipahami oleh mahasiswa lain, persepektif mahasiswa seperti ini
memiliki tingkat pemahaman yang berbeda. mahasiswa seperti ini bisa kemudian
menyimbangkan antara akademik dan organisasi atau kelompok tertentu yang
disukainya. bagi pemahaman mahasiswa yang lebih mementingkan akademik mungkin
tidak terlalu paham akan membentuk persepsi seperti mahasiswa ini, yang
kemudian berdampak pada sesuatu yang tidak terlalu dipikirkan, ada juga
mahasiswa yang peka lebih mementingkan akademik melihat sosok mahasiswa seperti
ini mengalami distorsi hasrat, ingin rasaya menjadi dia yang bisa menyimbangkan
kuliah dan organisasi, tetapi akibat keterbatasan konsep, yang tidak
memperlihatan tekad untuk menjadi mahasiswa yang seperti itu, menjadi mahasiswa
yang bisa menyembangkan otak kanan dan otak kiri, kemudian lebih memilih pasrah
akan keadaannya dan kembali menjalani aktiviasnya, jalan hidupnya dengan tidak
terlalu mempersoalkan.
Penulis pahami bahwa banyak juga
mahasiwa yang terlihat tidak begitu antusias dalam kesehariannya dengan tidak
terlalu memikirkan tugas yang diberikan dosen. Lebih memilih aktivitas yang
nyaman dan membuat dia enjoy. Kesehariannya dihabiskan pada aktivitas yang
menurut pemahaman mahasiswa organisatoris itu aktivitas yang tidak membuat dia cerdas
dan berwawasan banyak.
Ilustrasi-ilustrasi mahasiswa diatas
dari pengamatan penulis itulah fenomena mahasiswa yang terbilang sangat
berfariasi dan entah apa yang mereka pikirkan sebarnya. Kita tidak bisa menjust
bahwa itulah kebiasaan atau keseharian yang akan terus berlanjut sampai tiba
saat dimana mereka menikmati konsekuensi dibalik apa yang mereka lakukan. Bisa
saja ada saat dimana mereka melihat bahwa tindakanku ini/tindakanku selama ini
sangat dan sangat tidak mencerminkan seorang intelektual, tidak menutup
kemungkinan seorang organisatoris yang lebih mementingkan organisasi dibanding
akademik akan mengatakan ahh.. ternyata selama ini saya sudah mengambil jalan
yang tidak seimbang . saya telah melewatkan banyak sks yang membuat saya harus
menuntaskan beberapa sks lagi agar lebih mempercepat kuliah saya.
itulah fenomena yang murni subjektif menurut pemahaman penulis yang murni subjektif.
itulah fenomena yang murni subjektif menurut pemahaman penulis yang murni subjektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar